#Tantangan Guru di Masa Pandemi


 -   2021-01-11



Assalamualaikum Wr.Wb

Masa Pandemi Covid-19 membuat pola pendidikan berubah. Semula proses belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka. Tetapi kini, proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Pandemi Covid-19 telah memberikan gambaran atas kelangsungan dunia pendidikan di masa depan melalui bantuan teknologi. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi. Situasi pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas setiap individu dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan dunia pendidikan.

Di media sosial para orang tua dan murid mengeluh dengan mekanisme pembelajaran yang hanya tugas, tugas, dan tugas tanpa adanya feedback dari pendidik. Keluhan ini bisa jadi disebabkan karena pendidik tidak terbiasa dengan metode pembelajaran daring. Pendidik dituntut harus menguasai teknologi bahkan jaringan internet yang memadai sebagai akses mengajar. Begitu juga dengan peserta didik. Belum lagi orang tua yang bukan hanya bertugas mengurus rumah kini harus menggantikan peran guru kepada anaknya.

Para pendidik harus memodifikasi rencana pembelajaran sedemikian rupa agar metode yang digunakan tepat dan dipahami oleh peserta didik. Tantangan tersebut bukan hanya terletak pada bagaimana metode untuk transfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pembelajaran daring tetap fokus pada pendidikan karakter. Hal ini dikarenakan bahwa pendidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value yang mana peran guru sangat dibutuhkan dan tidak dapat digantikan dengan teknologi secanggih apa pun. Tentu tidak mudah bagi seorang pendidik untuk memantau bagaimana perkembangan karakter peserta didik dalam situasi yang tidak bisa memantau secara langsung.

Sesuai dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 5 Tahun 2019 tentang Kegiatan Penumbuhan Wawasan Kebangsaan dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, kurikulum 2013 ini pemerintah mengedepankan pendidikan karakter yang nantinya dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan.

Ada beberapa nilai pendidikan karakter yang beberapa di antaranya menjadi actual di masa pandemi Covid-19 ini. Pertama disiplin, disiplin yang merujuk pada patuh dan tertibnya peserta didik dalam menaati peraturan. Dalam situasi pembelajaran tatap muka, peserta didik terbiasa untuk mematuhi peraturan dengan memakai seragam sesuai jadwal dan topi saat upacara bendera. Tiba-tiba pada masa pandemi Covid-19 mereka belajar di rumah tanpa memakai seragam. Tentu suasananya berbeda. Kedua, jujur. Ketika ujian ataupun mengerjakan tugas dari guru peserta didik cenderung mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh karena guru memantau dalam kelas. Berbeda ketika mengerjakan ujian secara daring, keseriusan peserta didik dalam mengerjakan ujian berkurang bahkan mengundang peserta didik melakukan plagiarisme karena tanpa pengawasan dari guru meskipun orang tua mendampinginya, tentu pengawasan guru dan orang tua itu berbeda. Ketiga tanggungjawab, dalam sistem tatap muka peserta didik biasanya ada aktivitas piket harian. Hal tersebut ditujukan untuk melatih peserta didik agar bertanggungjawab terhadap tugasnya, berbeda ketika sistem daring yang mana anak-anak cenderung tidak memikirkan lingkungan sekitar karena merasa sudah menjadi tanggungjawab orang tua.

Tentu tidak mudah bagi seorang guru untuk mencari jalan keluar atas permasalahan pembelajaran daring ini, namun guru tetap dituntut untuk mencari solusi sebagai konsekuensi sebagai seorang pendidik. Hal pertama yang dapat dilakukan oleh guru adalah menjaga komunikasi dengan murid, misalnya dengan teguran atau sapaan setiap pagi. Maksud dari aktivitas tersebut adalah untuk menjaga semangat dan mengingatkan kembali bahwa guru selalu memantau dan menjadi teladan bahwa sikap ramah itu sangat penting. Kedua, meningkatkan rasa disiplin. Dapat diterapkan ketika guru melakukan pembelajaran, biasanya waktu pembelajaran sudah terjadwal, guru dapat melakukan pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan tanpa mengurangi ataupun menambah jam mata pelajaran.

Tanggungjawab, rasa tanggungjawab akan muncul apabila guru dan peserta didik paham akan tugasnya, guru mengajar dan peserta didik mengikutinya. Dengan demikian mereka mampu menyelesaikan tugas masing-masing dengan mandiri. Tanggungjawab ini bukan hanya sebatas penyelesaian tugas sekolah, peserta didik juga dituntut bertanggungjawab atas posisinya di rumah. Misalnya bagaimana peran dan tanggungjawab sebagai kakak yang mana menjaga adiknya, peran adik yang menuruti kakaknya, peran bapak dan ibu yang mendidik anak-anaknya. Tidak selesai sampai di situ saja, tanggungjawab dalam lingkungan sekitar juga sangat penting. Bagaimana bertanggungjawab sebagai anggota masyarakat.

Selanjutnya adalah peduli sosial, dalam keteladanan guru sebagai pendidik, guru harus benar-benar melakukan real action bukan hanya penugasan yang bersifat monoton. Sebelum guru memberi tugas guru dapat mengirim video pentingnya bersosialisasi terhadap lingkungan. Misalnya mengikuti kerja bakti, membantu teman atau tetangga yang sedang kesusahan, mencuci piring, dan lainnya.

Bekerja sama dengan orang tua, tentu antara guru dan orang tua harus menjadi model good character dalam pembentukan karakter anak. Karena rumah menjadi sekolahnya, maka disini orang tua menjadi tokoh utamanya. Namun, banyak para orang tua mengeluh karena tidak sanggup berperan sebagai pendidik seperti halnya seorang guru. Padahal, momen belajar di rumah ini dapat menjadi waktu yang baik untuk menjaga komunikasi antara orang tua dan anaknya, di sinilah orang tua menunjukkan perannya sebagai pendidik yang andal. Bukankah pendidikan anak yang pertama dan utama itu ada di dalam lingkungan keluarga?

Guru dan orang tua harus memiliki tujuan yang sama agar pendidikan yang diharapkan dapat tercapai. Guru memberi pengajaran dan orang tua memahamkannya, ibaratnya seorang guru memberi buah mangga dan orang tua mengupaskannya. Tentu anak akan lebih semangat memakannya. Bukan hanya itu, pemantauan orang tua kepada anak dalam menggunakan teknologi juga sangat penting. Misalnya bagaimana mengatur waktu dalam penggunaan handphone ketika belajar dan bermain agar anak tidak salah fokus terhadap fungsi handphone untuk kegiatan belajar.

Pembelajaran daring di masa pandemi ini memang tidak mudah, perlu adanya kerja sama yang baik dari berbagai subjek pendidikan. Pendidikan yang baik adalah proses yang bukan sebatas memberi dan menerima pembelajaran, namun di balik itu ada sikap positif yang mampu tumbuh, yaitu karakter yang baik dan santun. Pembelajaran daring akan dirasa tidak menyulitkan apabila direspon dan dihadapi dengan sikap yang tepat, sehingga dapat menjadi metode pembelajaran yang bagus. Semoga pandemi ini segera berakhir.

Wassalamualaikum Wr.Wb