#Tantangan Guru di Era Digital


 Retno Murdiatri, S. Pd   2015-11-25


PENDAHULUAN

Guru di tiap – tiap zaman memiliki tantangannya masing – masing. Pendahulu kita, para penyebar ilmu tersekat oleh jauhnya jarak untuk membagikan ilmu. Tengoklah mereka yang berjuang dengan kapur tulisnya, ruangan kelas dengan beralaskan tanah dan tanpa atap. Jangan tanya tentang sarana, bahkan terkadang belajar di alam terbuka adalah hal yang biasa. Dengan peralatan seadanya dan tempat yang sederhana para guru di zaman dahulu adalah para pejuang ilmu ! 

Beda era, beda zaman, berbeda pula tantangan dan kendala yang dihadapi. Guru zaman sekarang adalah guru di era serba canggih. Tidak perlu bersusah payah menempuh perjalanan jauh, guru di era ini bahkan tak perlu menulis di papan tulis lagi, karena sudah bisa menggunakan power point dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan bantuan peralatan modern, sarana serba digital, dan tempat yang mewah, Guru di era ini sungguh sangat beruntung !

TANTANGAN

Dengan berbagai kelebihan dan fasilitas yang dimiliki pendidik di masa kini, apakah kami tidak memiliki kendala ? Tentu saja ada hambatan di setiap perjuangan. Ada rintangan dalam setiap perjalanan. Namun Kami menyebutnya tantangan yang harus kami atasi.  

Di era serba digital ini, tantangan terberat kami tentu saja para murid – murid kami yang sangat pintar menguasai teknologi. Anak didik kami di era ini adalah anak- anak digital native  atau generasi digital. Mereka adalah anak yang terlahir di zaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital sejak dini. Mereka memiliki kemampuan menggunakan teknologi canggih tanpa perlu diajarkan. Mereka adalah pengguna setia gadget terkini yang sangat mahir menggunakan hp, ipad, tab, komputer dan lain sebagainya.

Anak didik kamilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kami. Seperti kata pepatah, “ Anakmu bukan hidup di zamanmu, mereka tidaklah sama denganmu”. Maka, cara mendidik dan mengajari mereka tentu saja berbeda dengan zaman kita. Disinilah peran guru, Kami harus selalu mengikuti perkembangan zaman. 

Jika cara mengajar guru tidak berubah mengikuti perkembangan zaman, tentu saja guru akan segera ditinggal oleh murid – muridnya. Para anak didik akan cepat bosan karena cara mengajar guru tidak mengikuti perkembangan digital yang pesat. Apalagi sebagian besar guru – guru tidak lahir di era digital. Kami para guru yang lahir sebelum digital marak disebut digital immigrant  . Yaitu mereka yang lahir diatas tahun 80 – an sehingga tidak menguasai teknologi atau baru mengenal teknologi setelah dewasa. Sehingga para guru sering gagap teknologi karena sangat canggung dengan teknologi.

Perbedaaan inilah yang harus kami sikapi dengan bijak. Para guru harus banyak belajar mengenal peralatan serba digital yang ada sehingga melek teknologi dan bisa merangkul murid – muridnya. Gap yang menjadi jurang pemisah antara murid dan guru di bidang teknologi jangan sampai membatasi kegiatan belajar mengajar dikelas.

Belum lagi menghadapi ancaman - ancaman di dunia cyber yang membahayakan. Seorang guru harus memberikan pengarahan dan informasi kepada anak didiknya tentang bahaya – bahaya yang akan mengintai mereka seperti cyber crime, pornografi dan addicted ( kecanduan ). Tentu saja juga  dibutuhkan pemberian motivasi secara intensif agar anak didik kita dapat menghindari akibat – akibat negatif di dunia maya yang dapat mengancam mereka setiap detiknya.

Jadi bagaimana kiat – kiat guru menghadapi tantangan yang berat di era digital ini ? Selanjutnya akan Saya bahas di kiat – kiat menghadapi tantangan di era digital. Lalu, bagaimana dengan tantangan di Sekolah kami ?

Tantangan bagi kami sendiri di sekolah, tentu saja ada. Untuk menghadapi anak – anak yang melek teknologi dan informasi tentu saja kami harus menggunakan sarana teknologi dan informasi. Cara – cara mengajar model lama harus kita tinggalkan karena sudah tidak cocok dengan generasi sekarang. Menjelaskan dengan ceramah yang panjang akan membuat murid - murid bosan. Belajar dengan hanya teks book saja juga sudah tidak sesuai dengan anak – anak yang sudah terbiasa berinteraksi dengan layar. Maka dari itu penggunaan multimedia sebagai sarana pembelajaran mutlak diperlukan. 

Sebagai contoh, kami ingin mengadakan pembelajaran bahasa melalui blog. Tentu membutuhkan sarana komputer dan jaringan internet sebagai pendukungnya. Namun, ruang komputer di sekolah kami selama ini hanya digunakan khusus untuk pelajaran komputer saja. Jika kami ingin menggunakan komputer untuk pelajaran bahasa, kami harus menyesuaikan dengan jam pelajaran komputer. Tentu ini sangat menyulitkan, maka diperlukan laboratorium bahasa untuk mendukung pembelajaran tersebut. 

KIAT – KIAT MENGHADAPI TANTANGAN  

Bagaimana kami menghadapi anak didik kami di era digital ini ? Menurut saya ada 4 hal yang harus diperhatikan :

1. REVOLUSI PEMBELAJARAN 

Diperlukan revolusi pembelajaran untuk menghadapi anak didik di era digital ini. Guru harus mengubah cara dan gaya mengajarnya. Para Guru harus mulai melek IT dan memakai sarana pendukung digital untuk membantu pengajaran. Banyak sarana digital yang dapat dipakai dikelas misalnya penggunaaan multi media seperti e book. Guru juga bisa memakai berbagai macam media sosial yang sangat dekat dengan siswa seperti  facebook, twitter, instagram, you tube, blog dan lain sebagainya.

Penggunaan media sosial yang sangat digandrungi anak didik, tentu akan akan sangat menarik minat mereka. Misalnya Guru bisa memberi pertanyaan lewat twitter, lalu siswa menjawab dengan mereply  pertanyaan tersebut. Atau guru juga bisa memberikan rangkuman materi melalui ringkasan tweet dan para siswa bisa meretweet sebanyak-banyaknya untuk membaca ulang materi tersebut.

Untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan menulis, guru juga bisa menggunakan sarana blog yang sedang marak di jagad internet. Para peserta didik juga bisa sekaligus diminta untuk membuat video blogging sehingga mereka akan terpacu untuk kreatif .

Masih banyak sarana berbasis digital yang bisa kita pakai di kelas untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.

2.MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU. 

Guru harus meningkatkan pengetahuannya di bidang teknologi dan informasi. Untuk mengikuti perkembangan era digital salah satu caranya bisa dimulai dengan membuat portal belajar dalam website. Sehingga para siswa bahkan orangtua bisa senantiasa update pelajaran melalui website tersebut. 

Selain itu masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru, salah satunya yaitu dengan terus menambah spesialisasi diri setiap tahunnya. Setiap tahun guru diwajibkan belajar hal yang baru. Misalnya, di tahun ini belum bisa menulis di blog, maka harus belajar agar bisa menjadi penulis blog. Bisa bergabung dengan komunitas guru nge - blog atau blogger guru yang sudah banyak beredar.

Utuk meningkatkan skill teknologi digitalnya, para guru juga bisa mengikuti pelatihan digital learning yang banyak diadakan. Dalam pelatihan ini para guru bisa menambah wawasan teknologinya sehingga melebihi wawasan para muridnya. Untuk memacu dan memicu kreatifitasnya para guru bisa mengikuti berbagai lomba yang diadakan sekolah atau luar sekolah agar terus bersemangat dan terus belajar yang hal baru. 

Banyak juga para guru yang serius meningkatkan kompetensinya dengan melanjutkan study S2, mengikuti berbagai seminar atau studi banding bahkan sampai keluar negeri. Jika guru terus belajar menimba ilmu, maka Ia tidak akan tertinggal oleh murid – muridnya.

3.SARANA PENDUKUNG

Jika sekolah ingin menjadikan digital sebagai basisnya tentu saja harus menyediakan perangkat pendukungnya. Ruang multimedia mutlak diperlukan, laboratorium komputer lengkap dan bahasa juga harus ada sebagai sarana siswa. 

Untuk meningkatkan kreatifitas dan jiwa seni anak didik, sekolah juga bisa membuat radio online. Dimana radio tersebut bisa sebagai sarana aktualisasi diri para siswa juga bisa sebagai sarana komunikasi guru,  sekolah, orangtua dan berbagai pihak lainnya.

Anak didik di era ini juga lekat dengan kekuatan visualnya. Mereka terbiasa berinteraksi dengan layar komputer, internet dan you tube sehingga alat bantu visual dikelas akan memperbaiki proses belajar sampai 400 %   maka dari itu diperlukan ruang film atau teater mini untuk membantu proses kegiatan belajar mengajar.

Kesemua sarana tersebut tentu harus pula di dukung dengan fasilitas internet super cepat sehingga memudahkan akses para guru dan siswa dalam menggunakannya. Sekolah bisa melibatkan pihak sponsor untuk menekan biaya pemasangannya.

4.KOLABORASI

Yang terakhir tentu saja kita membutuhkan kolaborasi dari semua pihak untuk menghadapi tantangan di era digital ini. Sekolah dan Guru tidak bisa bekerja “sendirian” untuk mendidik generasi bangsa yang berkarakter. Kami butuh bantuan dari semua pihak. Orang tua sebagai  pihak paling penting dan sentral utama pendidikan adalah partner kami dalam dunia pendidikan. 

Apalagi di era serba digital ini, controlling dari orang tua dalam penggunaan gadget sehat mutlak diperlukan karena orang tualah yang bersama anak- anak selama 24 jam. Belum lagi  penanggulangan bahaya – bahaya yang mulai muncul di era digital ini seperti maraknya game online, cyber crime dan pornografi. 

Sekolah juga bisa mengundang beberapa pakar IT atau Yayasan terkait dibidangnya sebagai sarana pemantau perkembangan penanggulangan bahaya yang bisa senantiasa mengintai anak didik kita. Seperti mengundang Yayasan Kita dan Buah Hati yang sangat concern dengan bahaya pornografi pada anak. Sehingga kami para guru dan orang tua dapat mengerti cara pencegahan bahaya pornografi lewat internet.

Kami sangat membutuhkan sinergisitas dari seluruh lingkungan sekolah terkait. Mengembalikan anak – anak untuk dekat dengan masjid merupakan salah satu contoh bersinerginya peran lingkungan sekolah untuk mewujudkan generasi unggulan berakhlak mulia di era digital ini.

PENUTUP

Sejuta tantangan yang kami hadapi di era ini, tak lantas membuat kami kalah. Beribu hambatan yang kami alami sekarang, tak akan menyurutkan langkah – langkah kami. Segala macam rintangan dalam perjuangan ini tak akan membuat kami menyerah. Tetaplah semangat wahai para pejuang ilmu !!!

Ingatlah akan sucinya tugas yang kau emban. Banggalah karena engkau yang terpilih untuk mengemban amanah ini. Sungguh, profesi ini begitu mulia. Begitu hebatnya pekerjaan ini hingga ada hari spesial untuk memperingatinya. Begitu berartinya apa yang engkau kerjakan hingga, ada satu hari khusus untuk merayakannya.

Begitu terpujinya tugas ini, sehingga banyak sekali yang mengapresiasinya. Bahkan ada lagu khusus untukmu wahai guru. Lagu yang diciptakan spesial untuk para guru. Terima kasihku, Terima kasih guru, Jasamu guru, Hymne Guru, Terima kasih Ibu guru. Banyak sekali bukan ?

Belum lagi sederet kenikmatan menjadi seorang guru ! Betapa bahagianya   bisa berbagi sesuatu  untuk murid – murid  yang tercinta. Bisa berbagi ilmu, cerita, mimpi, bahkan sekedar semangat. Betapa senangnya menjadi Guru karena bisa melihat berbagai potensi anak didik yang beragam dan sangat luar biasa!

Banggalah wahai para guru karena engkau dapat menghantarkan anak – anak didikmu menuju cita – citanya kelak. Dan “hanya” dengan menjadi Gurulah,  engkau bisa “sedikit” memberikan kontribusi untuk  tanah airmu.Yang terakhir dan paling penting adalah tak bosan – bosannya kami mensyukuri pekerjaan ini, bahkan didalam kitab suci tercatat pahala syurgawi untuk kami  

Jadi guru sungguh luar biasa !!

Setiap ucapan terima kasih semoga menjadi  tanda serta pahala bagi semua guru. 

Selamat  hari guru untuk guru – guru seantero negeri … ..

Mind maping tulisan

3545-mainmapping.png