#Pentingnya Pendidikan Pra Sekolah


 Nia Rodiawati, M. Pd   2017-09-27


PENANAMAN NILAI EKOLOGI UNTUK ANAK USIA PRASEKOLAH

1. Anak Usia Prasekolah

Fase pra sekolah adalah fase yang akan di alami setiap anak setelah masa menyusui. Pada fase ini merupakan masa eksplorasi bagi anak yang mengalami perkembangan cepat dalam berbicara, ingin selalu bergerak, senantiasa ingin memiliki sesuatu secara egois. Fase para sekolah yaitu usia antara 3 sampai 6 tahun dan merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentangan usia lahir samapi 6 tahun. Pada usia ini secara triminologi disebut sebagai anak usia pra sekolah.

Anak usia pra sekolah merupakan fase bagi anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa kepekaan adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakan dasar pertama dalam mengmbangakan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. Maka dari itu di butuhkan stimulus yang sesuai dengan potensi anak dalam masa perkembangannya, selayaknya seorang pendidik mengajarkan anak-anaknya cara berbicara, berjalan, bagaimana bermain dan berolah raga.

1. Dasar pendidikan untuk anak usia pra sekolah ini juga sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun           2003 yaitu "taman kanak-kanak (TK) menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan keperibadian dan potensi diri sesuai       dengan tahap perkembangan peserta didik".

Orientasi pendekatan pembelajaran untuk anak usia pra sekolah haruslah sesuai dengan sasaran, maka kita perlu mengingat adanya fungsi pendidikan pra sekolah, tujuan dalam pandangan Frobel yang dikutip oleh M. Arifin dalam bukunya kapita selekta pendidikan Islam mendirikan taman kanak-kanak yaitu:

1. Memberikan pendidikan yang lengkap kepada anak-anak (3-6 tahun) sesuai dengan perkembangannya yang wajar.

2. Memberi pertolongan dan bimbingan kepada para ibu dalam mendidik anak-anaknya.

3. Mendidik dan menyiapkan para calon ibu dalam teori dan praktis untuk menjadi pemimpin TK dan untuk tugasnya sebagai ibu.

  Sedangkan fungsi pendidikan pra sekolah adalah:

1. Memperluas sikap dan matra sosialitas anak yang berorientasi dengan sikap dan matra individualitasnya secara harmonis.

2. Melaksanakan amanat pendidikan dari orang tua anak dalam arti mengembangkan pribadinya melalui proses belajar mengajar         secara formal untuk memperoleh unsur-unsur dasar ilmu pengetahuan dengan pengenalan anak kepada alam sekitarnya.

3. Mempersiapkan anak dengan pengalaman-pengalaman, sikap dan kemampuan untuk memasuki masa sekolah yang sebenarnya.

Sedangkan karakteristik anak usia pra sekolah menurut Snowman yang di kutip oleh Soemiarti Patmonodewo menjelaskan bahwa ciri-ciri anak usia pra sekolah yang ada di taman kanak-kanak meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif anak.

Target pendidikan anak usia pra sekolah adalah agar mampu mendapatkan yang terbaik dan orang yang mengemban proses pendidikan mampu berbuat sesuatu sesuai intelektual dan bisa mengadakan persesuaian dengan lingkungan. Menurut Hasan Langgulung ada 6 (enam) aspek yang harus diperhatikan dalam mendidik anak yaitu:

1. Aspek intelektual

2. Aspek umur, taman kanak-kanak harus menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman, tentram dan merasa bahwa ia                   mendapat sesuatu yang bermanfaat.

3. Aspek sosial, merasa mengadakan hubungan dengan anak yang biasanya bersifat egoistik, merasa memiliki dunia oleh sebab itu       ia masih selalu menerima

4. Aspek jasmani, taman kanak-kanak harus menyediakan kurikulum yang dapat mengembangkan badan sehat.

5. Aspek keindahan (estetik), hampir semua gerakan dan suasana kanak-kanak bisa dipersiapkan dengan indah.

6. Aspek moral juga yang perlu di kembangkan dalam kurikulum taman kanak-kanak.

       Pendekatan pembelajaran untuk anak usia pra sekolah di lakukan dengan berpedoman pembiasaan dan kemampuan dasar yang ada pada anak. Pendekatan dan pembelajaran pada taman kanak-kanak dan raudhatul atfhal hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak.

2. Berorientasi pada kebutuhan anak.

3. Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain

4. Mengunakan pendekatan tematik

5. Kreatif dan inovatif

6. Lingkungan kondusif.

7. Mengembangkan kecakapan hidup.

        Pendidikan anak usia pra sekolah merupakan pembinaan dan pembelajaran yang berorientasi pada anak didik, membentuk pertumbuhan dan perkembanganya serta mengembangkan potensi dan bakatnya untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia serta untuk mewujudkan bangsa yang beradab.

2. Penanaman Pendidikan Nilai Ekologi

        Agama Islam adalah "rahmatan lil’alamin" artinya agama yang membawa manfaat bagi seluruh alam. Taman kanak-kanak sebagai lembaga pra sekolah yang merupakan bagian terpenting dari rangkaian sistem sebagai upaya mengantarkan anak untuk memasuki jenjang pendidikan dasar.

         Dalam pembelajaran di usia pra sekolah atau TK merupakan bentuk pendidikan yang menyediakan program kegiatan belajar mengajar yang utuh. Pada jenjang pendidikan TK potensi anak-anak yang berhubungan dengan kecerdasan (intellegence), keterampilan (skill), bahasa (language), perilaku bersosialisasi (social behaviour), fisik (motorik) maupun kesenian (estetika) mulai tumbuh dan berkembang.

         Maka Lingkup penanaman pendidikan nilai ekologi dapat diselaraskan melalui lingkup materi pendidkan. Adapun secara umum lingkup materi pendidikan nilai ekologi yaitu; materi keimanan, materi spiritual, materi sosial kemasyarakatan, materi rasio atau intelektual, masteri jasmani dan materi estetika.

Penanaman nilai ekologi dapat melalui berbagai metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran di antaranya yaitu :

1. Metode Bermain

Pada masa ini anak lebih cenderung suka dengan permainan, maka tidak heran kalau di Taman Kanak-Kanak (TK) dianggap sebagai tempat belajar dan bermain.

a) Metode sosiodrama atau sentra peran yaitu dengan cara mendramatisasikan tingkah laku tertentu atau peran sebagai                     simulasinya. Yakni anak diajak berperan menjadi orang baik atau bijak terhadap lingkungan. Berperan menjadi hewan                     kesayangan atau memperagakan sifat dan tingkah laku hewan.

b) Metode sentra dan lingkaran yang merupakan salah satu metode pembelajaran dalam mendidik anak yang mengedepankan               konsep bermain. Dalam metode ini, alat-alat dan bahan-bahan main dikelompokan dalam beberapa sentra sesuai kebutuhan,           semisal sentra balok: anak disuruh membuat rumah dan kebun dari balok sesuai daya imanjinasinya. Anak-anak diajak bermain       dengan visualisasi binatang dan memanfaatkan alat dan bahan dari lingkungan sekitar. Anak diajak membuat alat permaian dari     bahan bekas.

2. Metode Bercerita

           Disini peran guru sangat berpengaruh sebab guru merupakan sentral pembelajaran. Metode ceritan merupakan teknik menuturkan atau menyampaikan secara lisan, guru memberikan kisah pelajaran dengan bahasa lisan. Bercerita untuk menghargai teman dan lingkungan dan bercerita seputar dunia binatang dan tumbuhan serta kisah-kisah teladan.

           Dengan metode cerita penyerapan nilai ekologi untuk anak bertujuan sebagai daya latih mengungakap kemampuan berfikir dan daya kosentrasi. Membantu perkembagan daya imanjinasi dan menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab terhadap buku, hewan, tumbuhan dan kisah-kisah teladan.

3. Metode Demontrasi

          Melalui metode demontarasi diharapkan memberikan ilustrasi dalam menjelaskan informasi kepada anak. Misalnya: guru mempraktekan membuang sampah pada tempatnya atau menyapu lantai. Bahkan membuat alat pembelajaran dari sisa-sisa sampah.

          Peran guru sangat berpengaruh besar dalam metode demontrasi, maka guru diharapkan menjadi suri tauladan bagi anak didiknya. Melalui metode demontrasi dalam penghayatan nilai ekologi di harapkan anak bisa merangsang anak Untuk aktif berpeilaku ramah terhadap kotoran dan mengetahui kebenaran jika kita membuang sampah tidak pada tempatnya akan menyebabkan kekumuhan di kelas dan meninmbulkan penyebaran nyamuk.

4. Metode Pembiasaan

        Metode pembiasan merupakan hal terpenting sebab akan membentuk kepribadian anak. Memiliki pembiasaan yang bijak dan arif dapat dibiasakan oleh siswa baik di sekolah, keluarga maupun dengan lingkungan hidupnya. Melalui metode pembiasaan para guru atau pendidik di TK Cahaya Ilmu memberikan suri tauladan terhadap pengamalan nilai ekologi.

        Anak dibiasakan untuk berperilaku ramah terhadap sesama, hewan dan tumbuhan serta semua hal yang melingkupinya. Diajak berperilaku sesuai dengan yang di syariatkan ajaran agama islam, seperti: membuang sampah pada tempatnya, adab setelah makan dan minum.

5. Metode Karya Wisata

          Metode ini diberikan kepada anak-anak dengan cara mengenalkan bahwa alam semesta merupakan hasil ciptaan allah yang tiada duanya. Memberikan perhatian kepada anak sesuai dengan realitas, yang meliputi: anak-anak diajak ke kebun binatang untuk melihat dan mampu menyebutkan nama-nama binatang yang ada didalamnya dan mampu untuk menghargai mahluk lain.

          Melalui metode karya wisata maka akan timbul rasa ingin tahu dan kesadaran. Guru sangat berperan untuk menjelaskan berbagai nama binatang, makanannya, dan lain-lain. Maka guru dapat memberikan nilai ekologi bahwa semua binatang merupakan ciptaan Allah dan wajib bagi anak untuk menghargai dan merawat semua binatang yang ada didunia ini.